Oleh :Daud Sinjal
Belanda telah berhasil mengembangkan pembangkit listrik bersumber biomassa kotoran ayam. Suatu keberhasilan gemilang, karena tenaga listrik yang dibangkitkan oleh tahi ayam itu mampu menerangi 90.000 rumah. Bayangkan luas cakupannya dalam suatu pemukiman di sini, misalnya Tanah Abang sebagai kecamatan terluas di Jakarta Pusat, di mana terdapat 31.000 rumah. Maka tiga kali Tanah Abang diteranginya. Atau mencakup hampir keseluruhan kota Semarang yang memiliki 94.723 rumah dan bangunan yang terdaftar.
Pembangkit listrik tenaga biomassa terbesar di dunia itu diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Pertanian dan Lingkungan Belanda, Ny. Gerda Verburg pada 2 September 2008. Kapasitas terpasang dari power station yang terletak di Moerdijk, dekat Rotterdam itu 36.5 megawatt (MW), dan memproduksi listrik 270 juta kilowatt hours (KWh) setahun. Sebagai perbandingan, kapasitas terpasang PLTA Jatiluhur, salah satu pemasok listrik untuk jaringan Jawa-Bali, adalah 187,5 MW.
Menelan investasi 150 juta Euro (225 juta dolar AS), perusahaan ini dimiliki secara patungan oleh 629 peternak ayam yang tergabung dalam koperasi Duurzame Energieproductie Pluimveehouderij (DEP, Produksi Energi Berkelanjutan Sektor Unggas), dan NV Delta, Austrian Energy & Environment AG, serta Zuidelijke Land- en Tuinbouworganisatie (ZLTO). NV Delta, korporasi besar yang mengoperasikan pembangkit listrik ini menguasai 50% saham. Koperasi DEP yang 70% anggotanya terkonsentrasi di selatan Belanda, menjamin suplai tahi ayam. Mesin mesin pembangkit listriknya dibangun oleh Austrian Energy & Environment AG.
Bahwa kotoran ternak sapi, babi, kambing, domba, unggas bisa dikembangkan menjadi biogas memang bukan cerita baru. Di Watugaluh, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, seorang warga secara sangat kecil, telah memanfaatkan kotoran sapi dan ayam sebagai biogas untuk menghidupkan listrik dan kompor. Tapi 60 ton kotoran ternaknya (dari 1.300 ayam dan 13 sapi), hanya menghasilkan listrik berdaya 500 watts (Surya, 16 April 2008). Sementara listrik dari ekslusif tahi ayam (tanpa campuran buangan ternak lain) yang di Belanda itu adalah hasil dari konversi 440,000 ton tahi ayam.
Juga Jadi Pupuk
Tahi ayam dipilih karena kering, sehingga lebih mudah dan cepat diolah. Energi dari biomassa ini menjawab dua tantangan sekaligus: ketersediaan energi berkelanjutan dan ikut menjaga udara bersih. Maka proyek energi terbarukan ini ikut menekan polusi yang diakibatkan limbah ternak, memberi tambahan pasokan listrik untuk suatu wilayah pemukiman yang luas, memberi keuntungan pada perusahaan pengelolanya dari penjualan listrik. Masih ditambah lagi satu keuntungan, yakni dari penjualan pupuk. Karena abu sisa pembakaran biomassa ini bisa dijadikan pupuk yang kaya akan phosphorus dan kalium.
Belanda akan meneruskan proyek proyek energi multiguna dari kotoran ayam dengan skala masif tersebut di tempat tempat lain di Belanda. Negara itu, seperti hampir semua negara Uni Eropa, selama ini direpotkan oleh limbah berbagai ternak yang mencemarkan udara. Maka memanfaatkan kotoran ayam untuk mengalihkannya ke energi carbon neutral adalah jalan keluar yang ramah lingkungan, sangat efisien, dan paling cost-effective. Tapi baru sepertiga dari total kotoran ayam Belanda yang dimanfaatkan untuk listrik. Negeri yang terkenal maju dalam peternakan ayam itu masih tetap harus mencari tempat buangan 800,000 ton tahi ayamnya di luar negeri, dengan ongkos yang sangat mahal.
China sebulan sebelumnya juga telah membuka pabrik biomassa dari kotoran ayam, yang akan membangkitkan listrik 14,600 MWh (14,6 juta KWh) setahun. Belanda sebagai negeri yang jauh lebih kecil mampu lebih menghasilkan listrik biomassa berkat efisiensi dalam pengumpulan dan penggunaan kotoran ayam. Karena wilayahnya kecil, transportasinya lebih pendek dan lebih mudah. Tapi Amerika Serikat yang paling kencang dengan penelitian dan pengembangan energi alternatif, seluruh proyek biomassanya hanya menghasilkan 11.000 MWh, jauh lebih kecil dari China atau Belanda. Dalam prakteknya, AS memang tertinggal dalam urusan energi diperbarukan ini. Di beberapa tempat orang Amerika memang telah menggunakan energi angin dan sinar surya, tapi sebagian besar power plant di sana masih menggunakan batu bara.
Di Indonesia
Berbagai penelitian dan pengembangan atas kotoran ternak menjadi biogas telah dilakukan pula di Indonesia. Belanda menghasilkan 1,2 juta ton kotoran ayam setahun dari rata rata 50 juta sampai 60 juta ayam yang ada setiap waktu (at any given moment in time) di kandang. Sementara Indonesia, mengutip proyeksi dari seminar nasional perunggasan yang berlangsung di Jakarta, 7 November 2007, produksi DOC (day old chicken) ayam pedaging (broiler) Indonesia tahun 2008 berjumlah 1,25 miliar ekor, dan populasi ayam petelur 104,8 juta. Data dari berbagai sumber perunggasan menyebutkan populasi ayam bukan ras (buras) sekitar 300 jutaan.
Semua pembicara di seminar perunggasan tersebut melihat masalah paling serius di tahun 2008 adalah kenaikan harga minyak dunia yang langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kenaikan biaya produksi. Namun para stakeholder perunggasan itu, tiada menyinggung sama sekali tentang potensi luar biasa dari limbah perternakan unggas untuk pengganti bahan bakar minyak bumi. Rekomendasi yang dicetuskan seminar pun masih “yang itu itu jugaâ€: tentang kampanye konsumsi daging dan telur ayam sebagai protein hewan paling murah, tentang pengendalian produksi dan persaingan usaha, penanggulangan Avian Influenza, peningkatan produksi bahan baku pakan lokal khususnya jagung, iklim kondusif bagi industri perunggasan.
Model seperti di Moerdijk, mestinya bisa diadopsi di sini. Perusahaan perusahaan perunggasan raksasa seperti Japfa, Charoen Pokphand, Wonokoyo, atau BUMN/BUMD bonafide, bisa dipercaya bank internasional atau nasional untuk mendapatkan dananya. Mereka bisa menggandeng perusahaan instalasi listrik seperti yang dari Austria itu, untuk mesin dan teknologinya. Dan kendati swasta besar perunggasan berkelimpahan limbah dari peternakannya sendiri, tetap terbuka kemitraan dengan peternakan skala kecil dan menengah setempat. Pemerintah harus sungguh sungguh membuka jalan dan mengawal dengan iklim usaha yang mendukung bagi keberhasilan proyek raharja bersama ini. Bersama antara antara swasta besar, perseroan negara, peternakan UKM atau koperasi, dan masyarakat sekitarnya.
Penulis adalah wartawan senior. Juga mengasuh dwimingguan khusus agribisnis AGRINA.Artikel ada di :
www.sinarharapan.co.id
Ditulis oleh Administrator
Dipublikasikan pada Tuesday, 30 December 2008 15:58
Hits: 3315
COMMENTS
Posted On
%b %05, %2012Posted By
Millati IndahIzin mengutip datanya, ya.. Kalau boleh tahu sumber data yang 90.000 rumah itu dari mana?
RSS